Kamis, 09 April 2009
KECELAKAAN JEMAAH UMRAH
Jakarta (MCH). Empat jemaah umrah asal Malaysia dan seorang warga Indonesia meninggal dunia karena kecelakaan di Madinah. Menurut Kantor Berita Malaysia Bernama, kecelakaan terajdi saat bus yang mereka naiki mengalami kecelakaan di Bir Ali, Madinah, Arab Saudi, semalam.Jemaah Malaysia yang meninggal dalam kejadian itu adalah Mohamad Ali Borhan, 68, dari Melaka, Rozita Jamaludin, 43, dari Perak, Sam Mad Saman, 60, dari Selangor dan Abdul Jalil Ahmad, 66, dari Negeri Sembilan. Tak dijelaskan nama jemaah umrah Indonesia yang wafat.Menurut jurubicara Kedutaaan Besar Malaysia di Madinah, semua jenazah akan dikebumikan di Madinah selepas selesai proses dokumen. "Dokumen semua korban diambil polis Madinah. Selepas semua proses selesai jenazah akan dikebumikan di sana. Konsulat Malaysia di sana akan mengurus jenazah itu," kata juru bicara itu.Kejadian pada hari Rabo, pukul 8.30 pagi itu juga melukai seorang warga Malaysia, Rohani Aziz, 55. Kini ia dirawat di RS Besar Meeqat, Madinah dan dilaporkan berada dalam keadaan stabil.Tiga belas lagi anggota rombongan itu selamat dan kini berada di hotel penginapan mereka di Hotel Jawharat Fairus, Madinah.Rombongan yang baru tiba di Jeddah dari Malaysia itu dikatakan dalam perjalanan menuju Madinah untuk melaksanakan ziarah, sebelum melaksanakan ibadah umrah. (MH)
Senin, 16 Maret 2009
Pembangunan Rel KA Cepat Mekah-Madinah Dimulai
Jakarta (MCH). Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian pembangunan jalan kereta api Mekah-Madinah-Jeddah dengan biaya SR6,79 miliar yang dilaksanakan oleh konsorsium yang dipimin perusahaan raksasa Arab Saudi, Al-Rajhi. Penandatanganan dilakukan Menteri Keuangan Arab Saudi Dr. Ibrahim al-Assaf dan Menteri Transportasi Dr. Jabara Al-Seraisry dan dari pihak Al-Rajhi diwakili Sulaiman Abdullah Al-Rajhi, yang menjabat sebagai ketua konsorsium yang melibatkan kontraktor Al-Arrab dan 18 perusahaan Cina. Proyek ini adalah prakarsa Khadimul haramain untuk memudahkan transpotasi jemaah haji dan umrah. Jelur kereta api akan dibangun sepanjang 450 kilometer yang akan menghubungkan Mekah-Madinah dan Jeddah. Nantinya, kerea api yang dipergunakan adalah TGV (Prancis) yang emiliki kecepatan 320 kilometer perjam. Jarak tempuh Mekah-Madinah atau Jeddah-Madinah hanya sekitar 2 jam. Sementara perjalanan dari Bandara Raja Abdul Aziz Jeddah menuju kota suci Mekah ditempuh hanya dalam waktu 30 menit.Tahap pertama dari proyek ini akan mencakup persiapan tanah, pemangunan jembatan, dan terowongan. "Kami mempertimbangkan sebuah proyek besar dalam sejarah transportasi di Kerajaan Arab Saudi," kata Al-Seraisry. "Kereta berkecepatan tinggi tidak hanya akan mempersingkat durasi perjalanan tetapi juga menjamin kenyamanan penumpang," katanya seperti dikutip harian Arab News edisi Jumat, 5 Maret kemarin. Kereta api ini akan dikelola Saudi Railway Organization (SRO). Menurut Abdul Aziz Al-Hoqail, presiden SRO, proyek akan selesai pada pertengahan tahun 2012 dan uji coba operasi akan dilakukan untuk jangka waktu enam bulan sampai resmi diluncurkan pada bulan November tahun yang sama. "Kereta api peluru yang menghubungkan Mekah dan Madinah yang aman akan meluncurkan jemaah dan penumpang lain dengan nyaman. Kereta api tersebut akan dilengkapi sistem komunikasi terbaru," katanya.Investasi grup Al-Rajhi untuk proyek ini mencapai 63,75%, sementara konsorsium perusahaan Cina mencapai 21,25%. Alstom, perusahaan transportasi Perancis pembuat kereta api cepat TGV akan menawaran pilihan transportasi. "Kami sangat antusias mengenai proyek yang akan melayani jutaan peziarah ini," kata Samer MS Arafa, eksekutif Vice President Al-Arrab, mitra Al-Rajhi. Dia menambahkan bahwa perusahaan akan menyelesaikan proyek sesuai jadwal.
Harga Sewa Pondokan Haji Meningkat Tajam
Jakarta (MCH). Sekjen Departemen Agama Bahrul Hayat PH.D mengatakan bahwa harga sewa pondokan haji di Mekah dewasa ini "melambung" tinggi, sehingga pemerintah harus bersaing dengan sejumlah negara muslim lainnya untuk mendapatkan pondokan yang dekat dengan kawasan Masjidil Haram."Harga sewa pondokan haji sekarang sedang melambung," kata Bahrul usai menyampaikan materi pada Rapat Kerja (Raker) di Jakarta, Jumat lalu.Sewa pondokan bagi jemaah haji, menurut dia, makin mahal disebabkan banyaknya pondokan di sekitar kawasan Masjidil Haram dibongkar terkait masih berlangsungnya proyek perluasan Masjidil Haram.Beberapa pejabat Departemen Agama, belum lama ini, bertolak ke Mekah dan mengundang pemilik pemondokan haji untuk disewa pada musikm haji tahun 1430 Hijriyah mendatang. Menurut Bahrul, pemimpin tim perumahan, banyak pemilik memasukkan penawaran. Namun harga yang ditawarkan sangat tinggi, sampai 4.000 riyal/orang/musim haji.Apakah dengan harga demikian tinggi itu akan diambil, tak dijelaskan. Yang jelas, Depag akan membentuk tim verifikasi terlebih dahulu untuk mencocokkan apakah rumah yang ditawarkan betul atau sesuai dengan keinginan. Ia berharap, jemaah Indonesia dapat ditempatkan di ring satu sebanyak 30 ribu orang. Selebihnya di ring II, dengan jarak sekitar 5 km dari kawasan Masjidil Haram.Diakuinya, hingga kini pemerintah belum menetapkan besaran plafon sewa pondokan. Tahun lalu pemerintah menetapkan plafon sebesar 2.000 riyal/orang/musim haji. "Proses besaran sewa pondokan diharapkan pada April mendatang sudah selesai," ujarnya.Ini berarti, Depag dan Komisi VIII harus secepatnya menetapkan harga biaya penyelengaraan ibadah haji. Termasuk di dalamnya penetapan sewa pondokan bagi jemaah haji. Yang penting, diharapkan pondokan jauh dari Masjidil Haram tak terulang seperti tahun lalu. (*)
Minggu, 04 Januari 2009
MAKKAH 2020

Kakbah Berpayung, Telanjang Kaki Tidak Panas Lagi
Pembenahan Kota Makkah, terutama kawasan di sekitar Masjid Al Haram, tetap menjadikan Kakbah sebagai sentrum. Bahkan, kali ini ada pembenahan yang cukup revolusioner di sekitar bangunan kubus itu, sehingga jamaah lebih nyaman beribadah.
Perubahan total wajah Kota Makkah ini sebenarnya sudah lama direncanakan: 1989. Tapi, memang banyak pekerjaan perencanaan yang harus dilalui sehingga secara fisik, pembebasan tanahnya baru bisa dilakukan pada 2004.
Perencanaannya pun cukup hati-hati. Untuk menggusur peninggalan bersejarah, misalnya, sampai dilakukan pengecekan secara internasional. Termasuk penggusuran benteng Ajyad yang dibangun pada 1775 yang diprotes oleh Turki: ternyata bangunan itu tidak termasuk yang dilindungi Unesco, badan PBB untuk urusan kebudayaan.
Meski begitu, pemerintah Arab Saudi tetap akan mengabadikannya dengan cara ini: membangun replika benteng itu. Hanya, replika itu tidak akan dibangun di tempat asalnya. Replika itu akan dicarikan tempat yang lebih terhormat dalam keseluruhan tata Kota Makkah yang baru.
Total ada enam proyek superblok di pusat Kota Makkah, yang berarti di sekitar Masjid Al Haram. Kalau di sebelah barat masjid ada superblok Jabal Omar, di sebelah timur masjid ada proyek superblok Jabal Khandama. Sebagaimana juga proyek Jabal Omar, superblok Jabal Khandama akan berupa bangunan-bangunan apartemen pencakar langit, hotel-hotel bintang lima, mal, dan segala macam keperluan orang hidup.
Kalau proyek Jabal Omar seluas 23 hektare, Jabal Khandama tiga kali lipatnya. Karena letak Jabal Khandama berdekatan dengan Jabal Kubes, berarti lokasinya di sekitar istana. Di lokasi ini memang ada istana yang khusus dipergunakan oleh keluarga kerajaan kalau sedang berada di Makkah. Istana ini berupa bangunan tinggi yang dari lantai tertentu bisa melihat Kakbah. Maklum, bangunan istana ini memang praktis menempel di Masjid Al Haram, dekat Babul Malik. Yang belum jelas adalah apakah istana ini termasuk yang harus digusur, karena lokasinya yang terlalu mepet masjid. Atau tetap dipertahankan karena bangunan itu sendiri masih relatif baru.
Enam proyek superblok baru inilah yang akan mengubah secara total wajah Kota Makkah. Juga mengubah pemandangan sekitar Masjid Al Haram. Maklum, lokasi enam proyek tersebut semuanya di sekitar masjid. Bahkan, menjadikan masjid sebagai sentrumnya.
Desain-desain tata kota di enam superblok itu juga dirancang secara terbuka. Layout proyek-proyek itu ditenderkan secara internasional. Juga antara satu proyek dan lima lain harus sinkron dan menjadi satu kesatuan perencanaan. Untuk mengikuti tender itu sudah ada pedoman dasarnya. Yakni, satu perencanaan tata Kota Makkah yang baru, yang disiapkan oleh perusahaan ahli tata kota modern dari Prancis: Atelier Lion. Berdasarkan konsep dasar itulah, peserta sayembara tata kota mengerjakan perencanaan detail enam proyek di sekitar Masjid Al Haram itu. Termasuk dua proyek utama: Jabal Omar dan Jabal Khandama di dekat Jabal Kubes itu.
Dengan enam superblok itu, gaya hidup penduduk Makkah akan berubah total. Dari kebiasaan lama tinggal di rumah-rumah biasa, menjadi berumah di apartemen-apartemen. Ini akan sama dengan apa yang terjadi di dunia Barat. Budaya rumah lama dengan tatanan khas Arabnya akan mengalami perubahan drastis. Dari wajah lahirnya, Kota Makkah masa depan akan terlihat seperti Kota New York atau Singapura.
Penataan Makkah memang boleh dibilang belakangan. Pemerintah kelihatannya lebih mendahulukan penataan Kota Madinah. Kota Madinah (tempat Nabi Muhammad SAW melanjutkan penyebaran agama sampai meninggal dunia) memang sudah sepuluh tahun terakhir ini terlihat sangat cantik. Taman-tamannya luas dan banyak pepohonan. Masjid Nabawi sendiri dibangun kembali dengan sangat cantiknya: termasuk kawasan sekitar masjid. Sistem toiletnya yang di bawah tanah itu bisa dibilang sempurna untuk memenuhi kebutuhan jutaan jamaah haji: bersih, modern, dan naik turunnya memakai eskalator.
Halaman masjidnya yang sangat luas, di samping bisa menampung banyak jamaah, juga menjadi landskap tersendiri bagi masjid itu. Tapi, memang masih ada kelemahannya. Kalau lagi musim panas, halaman itu silau dan membuat kaki yang menginjaknya belingsatan. Tahun ini semua kelemahan itu sudah dipecahkan: halaman itu dipasangi payung-payung raksasa dengan sistem buka tutup elektronik. Bahan-bahannya juga sangat luks sehingga terkesan sangat modern. Pada musim panas, halaman itu praktis berpayung. Sedangkan di musim sejuk, payung-payung itu menutup dan bentuk tertutupnya menjadi hiasan yang memperindah masjid.
Ide memayungi halaman Masjid Nabawi tersebut rupanya datang dari pengalaman masjid itu sendiri saat dilakukan pembangunan secara besar-besaran 20 tahun lalu. Di bagian dalam Masjid Nabawi, terutama yang menghubungkan bangunan lama dan baru, juga ada ruang tembus langit yang cukup luas. Ruang ini menjadi bagian dari masjid dan justru menjadi unsur ventilasi raksasa bagi masjid yang atapnya begitu masif.
Pada saat-saat tertentu, ventilasi ini ditutupi payung-payung. Di saat tertentu, seperti waktu malam atau pagi, payung-payung itu ditutup. Bentuk payung-payung penutup itu seperti hiasan interior tersendiri bagi masjid besar tersebut.
Rupanya dari situ pula pelajaran dipetik: di Makkah, di Masjid Al Haram, juga akan dipasang “payung” serupa. Memang berada di pelataran sekitar Kakbah bisa memberikan suasana kerohanian yang khusus. Terutama pada jam-jam menjelang sahur di bulan puasa. Namun, di musim panas, terutama tengah hari, pelataran di sekitar Kakbah panasnya bukan main. Padahal, kita harus bertelanjang kaki di situ. Marmer pelataran itu memang sangat menyejukkan, tapi di puncak musim panas tetap saja luar biasa menyengatnya. Dengan pemasangan “payung-payung” itu nanti, soal ini juga terpecahkan. Apalagi, secara desain payung itu sudah disesuaikan dengan lingkungan Masjid Al Haram, termasuk keberadaan Kakbahnya.
Melihat maket Masjid Al Haram berpayung, rasanya baik-baik saja. Artinya, tidak ada perasaan kebatinan yang terganggu kesuciannya oleh kehadiran benda-benda baru yang didesain indah itu. Entahlah bagi orang yang berpendapat bahwa Masjid Al Haram harus dipertahankan keasliannya karena merupakan tempat paling suci di mata umat Islam. (*)
Pembenahan Kota Makkah, terutama kawasan di sekitar Masjid Al Haram, tetap menjadikan Kakbah sebagai sentrum. Bahkan, kali ini ada pembenahan yang cukup revolusioner di sekitar bangunan kubus itu, sehingga jamaah lebih nyaman beribadah.
Perubahan total wajah Kota Makkah ini sebenarnya sudah lama direncanakan: 1989. Tapi, memang banyak pekerjaan perencanaan yang harus dilalui sehingga secara fisik, pembebasan tanahnya baru bisa dilakukan pada 2004.
Perencanaannya pun cukup hati-hati. Untuk menggusur peninggalan bersejarah, misalnya, sampai dilakukan pengecekan secara internasional. Termasuk penggusuran benteng Ajyad yang dibangun pada 1775 yang diprotes oleh Turki: ternyata bangunan itu tidak termasuk yang dilindungi Unesco, badan PBB untuk urusan kebudayaan.
Meski begitu, pemerintah Arab Saudi tetap akan mengabadikannya dengan cara ini: membangun replika benteng itu. Hanya, replika itu tidak akan dibangun di tempat asalnya. Replika itu akan dicarikan tempat yang lebih terhormat dalam keseluruhan tata Kota Makkah yang baru.
Total ada enam proyek superblok di pusat Kota Makkah, yang berarti di sekitar Masjid Al Haram. Kalau di sebelah barat masjid ada superblok Jabal Omar, di sebelah timur masjid ada proyek superblok Jabal Khandama. Sebagaimana juga proyek Jabal Omar, superblok Jabal Khandama akan berupa bangunan-bangunan apartemen pencakar langit, hotel-hotel bintang lima, mal, dan segala macam keperluan orang hidup.
Kalau proyek Jabal Omar seluas 23 hektare, Jabal Khandama tiga kali lipatnya. Karena letak Jabal Khandama berdekatan dengan Jabal Kubes, berarti lokasinya di sekitar istana. Di lokasi ini memang ada istana yang khusus dipergunakan oleh keluarga kerajaan kalau sedang berada di Makkah. Istana ini berupa bangunan tinggi yang dari lantai tertentu bisa melihat Kakbah. Maklum, bangunan istana ini memang praktis menempel di Masjid Al Haram, dekat Babul Malik. Yang belum jelas adalah apakah istana ini termasuk yang harus digusur, karena lokasinya yang terlalu mepet masjid. Atau tetap dipertahankan karena bangunan itu sendiri masih relatif baru.
Enam proyek superblok baru inilah yang akan mengubah secara total wajah Kota Makkah. Juga mengubah pemandangan sekitar Masjid Al Haram. Maklum, lokasi enam proyek tersebut semuanya di sekitar masjid. Bahkan, menjadikan masjid sebagai sentrumnya.
Desain-desain tata kota di enam superblok itu juga dirancang secara terbuka. Layout proyek-proyek itu ditenderkan secara internasional. Juga antara satu proyek dan lima lain harus sinkron dan menjadi satu kesatuan perencanaan. Untuk mengikuti tender itu sudah ada pedoman dasarnya. Yakni, satu perencanaan tata Kota Makkah yang baru, yang disiapkan oleh perusahaan ahli tata kota modern dari Prancis: Atelier Lion. Berdasarkan konsep dasar itulah, peserta sayembara tata kota mengerjakan perencanaan detail enam proyek di sekitar Masjid Al Haram itu. Termasuk dua proyek utama: Jabal Omar dan Jabal Khandama di dekat Jabal Kubes itu.
Dengan enam superblok itu, gaya hidup penduduk Makkah akan berubah total. Dari kebiasaan lama tinggal di rumah-rumah biasa, menjadi berumah di apartemen-apartemen. Ini akan sama dengan apa yang terjadi di dunia Barat. Budaya rumah lama dengan tatanan khas Arabnya akan mengalami perubahan drastis. Dari wajah lahirnya, Kota Makkah masa depan akan terlihat seperti Kota New York atau Singapura.
Penataan Makkah memang boleh dibilang belakangan. Pemerintah kelihatannya lebih mendahulukan penataan Kota Madinah. Kota Madinah (tempat Nabi Muhammad SAW melanjutkan penyebaran agama sampai meninggal dunia) memang sudah sepuluh tahun terakhir ini terlihat sangat cantik. Taman-tamannya luas dan banyak pepohonan. Masjid Nabawi sendiri dibangun kembali dengan sangat cantiknya: termasuk kawasan sekitar masjid. Sistem toiletnya yang di bawah tanah itu bisa dibilang sempurna untuk memenuhi kebutuhan jutaan jamaah haji: bersih, modern, dan naik turunnya memakai eskalator.
Halaman masjidnya yang sangat luas, di samping bisa menampung banyak jamaah, juga menjadi landskap tersendiri bagi masjid itu. Tapi, memang masih ada kelemahannya. Kalau lagi musim panas, halaman itu silau dan membuat kaki yang menginjaknya belingsatan. Tahun ini semua kelemahan itu sudah dipecahkan: halaman itu dipasangi payung-payung raksasa dengan sistem buka tutup elektronik. Bahan-bahannya juga sangat luks sehingga terkesan sangat modern. Pada musim panas, halaman itu praktis berpayung. Sedangkan di musim sejuk, payung-payung itu menutup dan bentuk tertutupnya menjadi hiasan yang memperindah masjid.
Ide memayungi halaman Masjid Nabawi tersebut rupanya datang dari pengalaman masjid itu sendiri saat dilakukan pembangunan secara besar-besaran 20 tahun lalu. Di bagian dalam Masjid Nabawi, terutama yang menghubungkan bangunan lama dan baru, juga ada ruang tembus langit yang cukup luas. Ruang ini menjadi bagian dari masjid dan justru menjadi unsur ventilasi raksasa bagi masjid yang atapnya begitu masif.
Pada saat-saat tertentu, ventilasi ini ditutupi payung-payung. Di saat tertentu, seperti waktu malam atau pagi, payung-payung itu ditutup. Bentuk payung-payung penutup itu seperti hiasan interior tersendiri bagi masjid besar tersebut.
Rupanya dari situ pula pelajaran dipetik: di Makkah, di Masjid Al Haram, juga akan dipasang “payung” serupa. Memang berada di pelataran sekitar Kakbah bisa memberikan suasana kerohanian yang khusus. Terutama pada jam-jam menjelang sahur di bulan puasa. Namun, di musim panas, terutama tengah hari, pelataran di sekitar Kakbah panasnya bukan main. Padahal, kita harus bertelanjang kaki di situ. Marmer pelataran itu memang sangat menyejukkan, tapi di puncak musim panas tetap saja luar biasa menyengatnya. Dengan pemasangan “payung-payung” itu nanti, soal ini juga terpecahkan. Apalagi, secara desain payung itu sudah disesuaikan dengan lingkungan Masjid Al Haram, termasuk keberadaan Kakbahnya.
Melihat maket Masjid Al Haram berpayung, rasanya baik-baik saja. Artinya, tidak ada perasaan kebatinan yang terganggu kesuciannya oleh kehadiran benda-benda baru yang didesain indah itu. Entahlah bagi orang yang berpendapat bahwa Masjid Al Haram harus dipertahankan keasliannya karena merupakan tempat paling suci di mata umat Islam. (*)
Sabtu, 20 Desember 2008
ADA MASJID BAIAT TERSELIP DI PADANG ARAFAH
oleh Edy M Ya`kub(ANTARA News) - Sebagai lokasi wukuf yang merupakan puncak haji, Padang Arafah banyak menyimpan jejak sejarah Islam yang sangat mendasar, di antaranya Jabal Rahmah yang menjadi lokasi pertemuan Nabi Adam As dan isterinya Siti Hawa setelah beratus-ratus tahun berpisah akibat terusir dari Surga.Di Padang Arafah juga merupakan saksi sejarah prosesi pemotongan hewan kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim As yang bermula dari perintah Allah Swt untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail As, bahkan gangguan setan pun akhirnya ditandai dengan prosesi lontar jumroh di sekitar kawasan itu.Tidak hanya itu, Padang Arafah juga menyimpan jejak awal pengembangan Islam di era Nabi Muhammad Saw. Tepatnya, jejak itu ada di Masjid Baiat yang letaknya tak jauh dari pintu keluar Jamarat (lokasi pelemparan jumrah) menuju arah Mekkah.Masjid di sisi Barat dari pintu keluar Jamarat itu berukuran sekira panjang 8 mterpersegi (m2) x lebar 6 m2 x tinggi 4 m2 itu dicat warna kuning oranye dengan beberapa tulisan prasasti di dindingnya."Masjid itu ditemukan pada tiga tahun lalu, saat pemerintah Arab Saudi melakukan pelebaran jalan ke Jamarat, tapi ada kesulitan untuk menghancurkan batu-batuan di antara pegunungan di Arafah itu dengan dinamit dan alat berat," kata mukimin (warga asing ber-KTP Arab Saudi), Muiz.Setelah dilakukan pemugaran secara perlahan, katanya, akhirnya ditemukan adanya masjid yang terselip di antara bebatuan pegunungan di dekat pintu keluar Jamarat itu. "Masjid itu akhirnya dibiarkan berdiri dengan sekelilingnya diberi kawat, dicat lagi, dan di luar kawat ada tempat wudhu," katanya.Hal itu dibenarkan ahli sejarah Islam yang alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, DR KH Imam Ghozali Said MA saat ditemui ANTARA di pemondokan haji Syauqiyah-620, Mekkah, untuk menunaikan ibadah haji bersama jemaah haji asal Surabaya yang dibimbingnya."Masjid Baiat itu model masjid lapangan seperti umumnya masjid di Arab Saudi, karena menyesuaikan kondisi cuaca yang tidak ada hujan, sehingga arsitekturnya bersifat terbuka atau tanpa atap," kata dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel, Surabaya itu.Menurut pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur, Wonocolo, Surabaya itu, mesjid itu sebenarnya bukan dibangun nabi, namun dibangun sahabat Jakfar Al-Mansur untuk menandai tempat Rasulullah melakukan baiat kepada penduduk Madinah yang masuk Islam."Itu terjadi pada tahun ke-13 kenabian atau dua tahun sebelum Nabi Muhammad Saw untuk melakukan hijrah. Nabi melakukan hijrah pada 622 Masehi, sehingga sahabat Jakfar Al-Mansur membangun prasasti berupa mesjid itu pada tahun 620 Masehi," katanya.Dua baiatDi lokasi Masjid Baiat itu, kata Imam Ghozali Said, Nabi Muhammad Saw melakukan dua kali baiat yakni Baiat Aqobah Ula untuk 12 penduduk Madinah dan Baiat Aqobah Tsani untuk 72 penduduk Madinah."Orang Madinah awalnya tidak tahu kalau ada nabi, bahkan mereka mendapatkan informasi adanya nabi bernama Muhammad itu justru dari orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengatakan akan ada nabi dan kalau nabi itu ada, maka kamu akan saya kalahkan," katanya.Oleh karena itu, katanya, penduduk Madinah pun akhirnya ke Mekkah, karena informasinya nabi yang dimaksud orang Yahudi itu memang ada di Mekkah, bahkan informasinya juga menyebutkan nabi di Mekkah itu diusir orang-orang Mekkah."Akhirnya, 12 penduduk Madinah pun datang ke Mekkah. Mereka melakukan baiat masuk Islam dan menyatakan siap menerima nabi di Madinah, karena itu mereka minta nabi untuk melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Mereka siap melindungi nabi seperti ayah melindungi anaknya," ungkapnya.Untuk Baiat Aqobah Tsani (Baiat II), kata dosen Universitas Sunan Giri Surabaya dan Universitas Darul Ulum Jombang itu, ada 72 orang Madinah yang menemui nabi di Mekkah dengan permintaan yang sama dengan orang Madinah yang pertama masuk Islam dengan Baiat I."Bahkan, 72 orang Madinah itu mengaku telah merintis pengembangan Islam di Madinah, sehingga bila nabi datang ke Madinah, maka sudah banyak orang Madinah yang masuk Islam dan siap berjuang di belakang Nabi Muhammad Saw," tegasnya.Sejarah dua kali baiat orang Madinah itu, katanya, dikenang sahabat Jakfar Al-Mansur dengan membangun Masjid Baiat sebagai napaktilas sejarah nabi membaiat orang-orang Madinah."Mesjid itu masih digunakan salat hingga Dinasti Usmaniyah atau sekitar 150 tahun lalu, namun karena tidak diperhatikan akhirnya tertimbun pasir saat ada badai melanda daerah itu," katanya.Saat itu, katanya, orang-orang Mekkah sudah tahu bila ada masjid yang menjadi tempat nabi melakukan baiat, tapi mereka tidak tahu lokasinya secara tepat setelah ada badai yang menutup mesjid itu."Mesjid itu ditemukan lagi pada 14 Ramadan 1426 H saat ada pelebaran Jamarat. Pemerintah meratakan tanah di kawasan Jamarat dengan dinamit, tapi ada sesuatu yang aneh, karena ada lokasi yang tidak bisa dihancurkan dengan dinamit, sehingga digali dan mesjid itu akhirnya ditemukan," katanya. (*)
KELUGUAN JEMAAH HAJI INDONESIA
Oleh Edy M Ya`kub
Jakarta (ANTARA News) - Kedatangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci agaknya bukan hanya perkara ibadah, tapi ada banyak benturan budaya di dalamnya.Apalagi, jemaah haji Indonesia umumnya masyarakat desa yang awam dengan budaya kota, tapi mereka sekarang dipaksa memahami budaya di luar negeri.Misalnya, cerita jemaah haji dari sektor I non-Markaziyah, Syaerozi, yang mengaku sudah tiga kali menunaikan ibadah haji."Ada jemaah haji yang satu regu dengan saya tampak kelelahan setelah tiga hari ada di Madinah, kemudian saya tanya," kata jemaah haji asal Sidoarjo itu.Ternyata, dia ada di lantai empat, tapi dia tidak tahu cara naik lift (tangga listrik), sehingga dia terpaksa jalan kaki pada setiap hari.Padahal, katanya, jemaah yang naik-turun lift adalah pedagang asal "kota besar" Surabaya yang berjualan di Darma Trade Centre (DTC) Wonokromo."Saya menduga, kalau berjualan di DTC, dia nggak pernah naik lift atau eskalator, tapi naik tangga yang biasa," katanya.Oleh karena itu, katanya, dirinya pun membimbing pedagang itu tentang tatacara menggunakan lift hingga jemaah asal "kota besar" itu pun terbiasa.Kendati lugu, sejumlah jemaah haji Indonesia juga tidak mampu menghentikan budaya merokok, meski barang bawaan berupa rokok selalu diperiksa.Munir adalah salah satu contoh jemaah haji yang tak mampu menghentikan kebiasan merokok untuk sementara waktu berada di Tanah Suci."Saya bawa tiga slop (60-an bungkus rokok), tapi dibuka dan disebar agar nggak ketahuan, ada yang disimpan di koper saya, ada juga yang di koper isteri," kata jemaah asal Sidoarjo itu tentang cara menyiasati razia.Bahkan, dia juga mempunyai cerita lain tentang rokok itu. "Selama beberapa kali nongkrong (duduk-duduk santai) di sini, banyak juga orang Afrika, India, dan Pakistan yang datang menemui saya untuk sekedar minta rokok," katanya.Bagaimana caranya? "Ya, pakai bahasa tarsan (bahasa tubuh)," kata jemaah haji keturunan Madura itu, sambil terus menghisap rokoknya.Bimbingan rinciSikap lugu agaknya membuat jemaah haji Indonesia juga mengambil jalan pintas, seperti di pemondokan jemaah haji non-Markaziyah sektor I dari kloter 32 SOC (Solo)."Di sini (pemondokan sektor I kloter 32 SOC), dispenser hanya mengalirkan air dingin dan air biasa, sedangkan air panas tidak ada, tapi pemiliknya menyediakan kompor listrik dan microwave," kata petugas TPIHI kloter 32 SOC (Solo), HM Solikhin.Masalahnya, jemaah haji asal Jepara, Jawa Tengah itu tidak terbiasa dengan kompor pemanas yang canggih seperti itu, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan membeli "hitter" (alat pemanas air listrik) yang mudah dan sederhana."Akibatnya, di sini nyaris terjadi kebakaran di kamar 201 pada pekan lalu, karena salah seorang jemaah haji merebus air dengan hitter yang diletakkan di atas meja TV dan kulkas, kemudian ditinggal keluar untuk Arbain," katanya.Akhirnya, kepulan asap pun keluar dari pemondokan itu, namun semprotan air di kamar pemondokan berfungsi, sehingga kebakaran tidak menjalar kemana-mana.Meski demikian, tiga koper jemaah yang ditumpuk di dekat TV, kulkas, dan hitter itu pun hangus terbakar."Andaikata air panas bisa didapat dengan dispenser, tentu masalahnya akan selesai," katanya.Tidak hanya itu, jemaah haji saat menjalankan salat Arbain pun masih ada yang belum tahu "Raudah" (bekas rumah Rasulullah SAW yang disebut `taman surga` dengan letak lokasi ada di antara makam dan mimbar nabi)."Mereka tidak tahu, tapi mereka tidak mau bertanya, mereka hanya perkiraan saja sesuai keterangan pembimbing ibadah, padahal dalam kenyataan bisa sangat berbeda," kata Syaerozi dari Sidoarjo, Jatim.Misalnya, katanya, pembimbing ibadah mengatakan "taman surga" Raudah yang luasnya sekitar 144 meter persegi itu memiliki lantai yang dilapisi karpet wool berwarna putih, sedangkan warna karpet Masjid Nabawi adalah merah."Ungkapan itu pun masih membuat bingung jemaah haji Indonesia, karena warna putih di Raudah itu sekarang sudah agak tidak seputih dulu, tapi warnanya kekuning-kuningan akibat lama dipakai," katanya.Oleh karena itu, Syaerozi pun akhirnya membimbing jemaah haji dengan satu persatu untuk mengetahui dari dekat dan langsung tentang Raudah itu sendiri. "Itu baru satu tempat," katanya.Realitas tentang keluguan jemaah haji Indonesia itu agaknya menuntut adanya penjelasan yang rinci kepada mereka dari ketua regu, ketua rombongan, atau buku petunjuk yang rinci tapi mudah dan sederhana bahasanya.(*)
Jakarta (ANTARA News) - Kedatangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Suci agaknya bukan hanya perkara ibadah, tapi ada banyak benturan budaya di dalamnya.Apalagi, jemaah haji Indonesia umumnya masyarakat desa yang awam dengan budaya kota, tapi mereka sekarang dipaksa memahami budaya di luar negeri.Misalnya, cerita jemaah haji dari sektor I non-Markaziyah, Syaerozi, yang mengaku sudah tiga kali menunaikan ibadah haji."Ada jemaah haji yang satu regu dengan saya tampak kelelahan setelah tiga hari ada di Madinah, kemudian saya tanya," kata jemaah haji asal Sidoarjo itu.Ternyata, dia ada di lantai empat, tapi dia tidak tahu cara naik lift (tangga listrik), sehingga dia terpaksa jalan kaki pada setiap hari.Padahal, katanya, jemaah yang naik-turun lift adalah pedagang asal "kota besar" Surabaya yang berjualan di Darma Trade Centre (DTC) Wonokromo."Saya menduga, kalau berjualan di DTC, dia nggak pernah naik lift atau eskalator, tapi naik tangga yang biasa," katanya.Oleh karena itu, katanya, dirinya pun membimbing pedagang itu tentang tatacara menggunakan lift hingga jemaah asal "kota besar" itu pun terbiasa.Kendati lugu, sejumlah jemaah haji Indonesia juga tidak mampu menghentikan budaya merokok, meski barang bawaan berupa rokok selalu diperiksa.Munir adalah salah satu contoh jemaah haji yang tak mampu menghentikan kebiasan merokok untuk sementara waktu berada di Tanah Suci."Saya bawa tiga slop (60-an bungkus rokok), tapi dibuka dan disebar agar nggak ketahuan, ada yang disimpan di koper saya, ada juga yang di koper isteri," kata jemaah asal Sidoarjo itu tentang cara menyiasati razia.Bahkan, dia juga mempunyai cerita lain tentang rokok itu. "Selama beberapa kali nongkrong (duduk-duduk santai) di sini, banyak juga orang Afrika, India, dan Pakistan yang datang menemui saya untuk sekedar minta rokok," katanya.Bagaimana caranya? "Ya, pakai bahasa tarsan (bahasa tubuh)," kata jemaah haji keturunan Madura itu, sambil terus menghisap rokoknya.Bimbingan rinciSikap lugu agaknya membuat jemaah haji Indonesia juga mengambil jalan pintas, seperti di pemondokan jemaah haji non-Markaziyah sektor I dari kloter 32 SOC (Solo)."Di sini (pemondokan sektor I kloter 32 SOC), dispenser hanya mengalirkan air dingin dan air biasa, sedangkan air panas tidak ada, tapi pemiliknya menyediakan kompor listrik dan microwave," kata petugas TPIHI kloter 32 SOC (Solo), HM Solikhin.Masalahnya, jemaah haji asal Jepara, Jawa Tengah itu tidak terbiasa dengan kompor pemanas yang canggih seperti itu, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan membeli "hitter" (alat pemanas air listrik) yang mudah dan sederhana."Akibatnya, di sini nyaris terjadi kebakaran di kamar 201 pada pekan lalu, karena salah seorang jemaah haji merebus air dengan hitter yang diletakkan di atas meja TV dan kulkas, kemudian ditinggal keluar untuk Arbain," katanya.Akhirnya, kepulan asap pun keluar dari pemondokan itu, namun semprotan air di kamar pemondokan berfungsi, sehingga kebakaran tidak menjalar kemana-mana.Meski demikian, tiga koper jemaah yang ditumpuk di dekat TV, kulkas, dan hitter itu pun hangus terbakar."Andaikata air panas bisa didapat dengan dispenser, tentu masalahnya akan selesai," katanya.Tidak hanya itu, jemaah haji saat menjalankan salat Arbain pun masih ada yang belum tahu "Raudah" (bekas rumah Rasulullah SAW yang disebut `taman surga` dengan letak lokasi ada di antara makam dan mimbar nabi)."Mereka tidak tahu, tapi mereka tidak mau bertanya, mereka hanya perkiraan saja sesuai keterangan pembimbing ibadah, padahal dalam kenyataan bisa sangat berbeda," kata Syaerozi dari Sidoarjo, Jatim.Misalnya, katanya, pembimbing ibadah mengatakan "taman surga" Raudah yang luasnya sekitar 144 meter persegi itu memiliki lantai yang dilapisi karpet wool berwarna putih, sedangkan warna karpet Masjid Nabawi adalah merah."Ungkapan itu pun masih membuat bingung jemaah haji Indonesia, karena warna putih di Raudah itu sekarang sudah agak tidak seputih dulu, tapi warnanya kekuning-kuningan akibat lama dipakai," katanya.Oleh karena itu, Syaerozi pun akhirnya membimbing jemaah haji dengan satu persatu untuk mengetahui dari dekat dan langsung tentang Raudah itu sendiri. "Itu baru satu tempat," katanya.Realitas tentang keluguan jemaah haji Indonesia itu agaknya menuntut adanya penjelasan yang rinci kepada mereka dari ketua regu, ketua rombongan, atau buku petunjuk yang rinci tapi mudah dan sederhana bahasanya.(*)
PETUGAS KEBERSIHAN DI MEKAH

beberapa petugas kebersihan tengah membersihkan "Hijir Ismail" di sisi kanan Kabah di Mekah, Arab Saudi, Minggu (30/1. Hijir Ismail, tempat yang disiapkan nabi Ibrahim AS bagi putranya nabi Ismail AS, merupakan satu dari tiga lokasi di Kabah paling disukai umat Islam untuk berdoa (FOTO ANTARA/pandu dewantara)
Langganan:
Postingan (Atom)